Penghentian resmi operasi pencarian dan pertolongan (SAR) oleh Basarnas tidak menyurutkan ikhtiar pihak keluarga korban kapal hilang di perairan Gunung Anak Krakatau. Pihak keluarga dari kru kapal berencana menyisir perairan Selat Sunda secara mandiri dengan meminta bantuan warga serta nelayan setempat.
Langkah swadaya ini diambil guna mencari kejelasan atas keberadaan delapan orang anggota rombongan kapal Arupadhatu I yang dilaporkan hilang saat menjalankan misi peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kendati menerima batas waktu prosedur pertolongan resmi dari otoritas, keluarga menganggap penyisiran mandiri perlu dilakukan karena belum adanya kesimpulan pasti mengenai nasib para korban.
Pencarian Swadaya Pasca-Operasi Basarnas Dihentikan
Keputusan keluarga untuk bergerak mandiri muncul setelah operasi pencarian gabungan yang dipimpin Basarnas selama sepuluh hari resmi dihentikan tanpa membuahkan hasil. Ketiadaan petunjuk konkret mengenai keberadaan kapal maupun awaknya mendorong pihak keluarga untuk terus melakukan upaya pencarian di lapangan.
Sumi, perwakilan keluarga dari Heriyanto yang bertindak sebagai pemandu (guide) rombongan, mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah mengikhlaskan penghentian penyisiran oleh tim SAR gabungan. Namun, usaha secara mandiri dinilai tetap harus berjalan demi mendapatkan kabar pasti.
“Keluarga rencana akan melakukan pencarian secara mandiri. Kita mah ikhtiar terus aja, hingga ada kabar baik, karena ini kan belum ada kesimpulan,” ujar Sumi saat memberikan keterangan pada Jumat (18/9/2026).
Ketidakpastian yang berlarut-larut memberikan dampak kesehatan psikologis yang cukup berat bagi keluarga korban. Sumi membeberkan bahwa istri Heriyanto saat ini dalam kondisi sakit dan harus menjalani perawatan medis berupa infus di rumah akibat beban pikiran atas musibah tersebut.
Daftar Delapan Korban Hilang di Perairan Selat Sunda
Pelayaran kapal Arupadhatu I mengangkut rombongan gabungan yang terdiri atas lima jurnalis media massa serta tiga kru dan pemandu pelayaran. Mereka bertolak menuju perairan Selat Sunda untuk mendokumentasikan serta memantau kondisi terkini dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berikut adalah data delapan individu yang berada di dalam kapal Arupadhatu I saat dilaporkan hilang kontak:
- M Bagus Khoirunnas – Jurnalis LKBN Antara
- Arie Basuki – Jurnalis Merdeka.com
- Yudistiro Pranoto – Jurnalis iNews
- Firman Daus – Jurnalis Anadolu Agency
- Donal Husni – Jurnalis lepas (freelance)
- Warta / Surahman – Kapten kapal Arupadhatu I
- Sukarman – Anak Buah Kapal (ABK)
- Heriyanto – Pemandu jalan (guide)
Sikap Pasrah dan Ketegaran Pihak Keluarga Korban
Sikap pasrah namun penuh harapan juga diutarakan oleh Yayat Suryadi, anak dari Sukarman yang bertugas sebagai ABK kapal. Yayat memahami keterbatasan batas waktu operasional penyisiran yang dijalankan oleh tim SAR gabungan Basarnas.
“Kalau begini, mau gimana lagi, harus ikhlas kami juga,” tutur Yayat merespons penutupan operasi pertolongan secara resmi.
Meskipun demikian, Yayat menegaskan bahwa jalinan doa dari pihak keluarga tidak pernah terputus. Ia masih menaruh harapan besar agar keajaiban terjadi dan seluruh rombongan kapal Arupadhatu I dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Dengan berhentinya operasi SAR skala besar dari instansi resmi, fokus pencarian kini beralih pada inisiatif lokal. Pihak keluarga berharap dukungan dari para nelayan yang beraktivitas saban hari di lintasan Selat Sunda dapat memberikan titik terang atas keberadaan rombongan tersebut.

