Situasi keamanan di Semenanjung Arab kembali memanas tajam setelah gelombang serangan udara melanda wilayah barat Yaman. Kelompok Houthi melaporkan bahwa armada jet tempur F-15 milik militer Arab Saudi melancarkan sedikitnya 40 gempuran dalam kurun waktu 24 jam. Intensifikasi aksi militer ini menandai babak baru eskalasi regional yang berpotensi memperparah ketidakstabilan pasokan energi dunia.
Berdasarkan pernyataan resmi juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, gempuran udara tersebut difokuskan pada tiga wilayah strategis, yakni Provinsi Taiz, Marib, dan Hodeidah. Pesawat-pesawat tempur F-15 tersebut dikabarkan lepas landas dari Pangkalan Udara Khamis Mushait yang berlokasi di wilayah selatan Arab Saudi. Saree juga mengklaim total serangan udara yang dilepaskan ke wilayah Yaman sepanjang pekan ini telah mencapai 450 kali, meskipun pihak Houthi belum menyertakan bukti fisik langsung atas klaim angka tersebut.
Konfirmasi Medan Tempur dan Respons Tanpa Suara dari Riyadh
Dinamika di lapangan mengindikasikan adanya pergerakan militer terkoordinasi. Para pejabat pemerintah Yaman selatan—faksi yang mendapat dukungan dari koalisi Riyadh—membenarkan bahwa pasukan mereka bersama militer Arab Saudi telah melancarkan serangan udara menyasar posisi-posisi pertahanan Houthi. Meski demikian, pemerintah kerajaan Arab Saudi di Riyadh hingga saat ini belum memberikan konfirmasi resmi terkait laporan pengeboman masif tersebut.
Langkah ofensif ini mengemuka di tengah laporan intelijen mengenai pergerakan militer Houthi yang makin agresif. Kelompok pro-Iran tersebut dilaporkan berupaya mengincar Kota Suci Mekkah menggunakan drone, di samping mencatatkan kemajuan teritorial di sepanjang pesisir Laut Merah. Houthi juga disebut telah menguasai sejumlah pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb, sebuah perairan krusial yang menjadi jalur lalu lintas kapal-kapal tanker pembawa pasokan minyak dunia.
Serangan Balasan ke Yanbu dan Peningkatan Status Siaga
Menanggapi gelombang gempuran udara Saudi, kelompok Houthi mengeklaim telah meluncurkan balasan berupa gelombang drone dan rudal. Sasaran tembak difokuskan pada Yanbu, kota pelabuhan minyak utama milik Kerajaan Arab Saudi di pesisir Laut Merah, serta pangkalan udara di Khamis Mushait. Walau Houthi tidak merinci jadwal pasti peluncuran proyektil tersebut, otoritas Arab Saudi sebelumnya telah menempatkan kawasan Yanbu dan Khamis Mushait dalam daftar wilayah bersiaga tinggi.
Eskalasi perselisihan kedua pihak ini terjadi hanya beberapa pekan setelah insiden pada awal September 2026, ketika serangan Houthi mengganggu operasional sejumlah infrastruktur energi di wilayah Saudi dan mengakibatkan sedikitnya 73 orang terluka. Memburuknya situasi keamanan mendorong Pemerintah Amerika Serikat memperketat peringatan perjalanan bagi warganya di Arab Saudi, sekaligus melarang personel diplomatik bepergian dalam radius 20 mil dari perbatasan Yaman.
Ancaman Krisis Pasokan dan Gejolak Harga Minyak Dunia
Perkembangan konflik di Yaman menambah beban berat pada peta geopolitik Timur Tengah yang sudah rapuh. Meluasnya pertempuran terjadi bersamaan dengan ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran selama enam bulan terakhir, yang sebelumnya telah mengganggu kelancaran navigasi kapal di Selat Hormuz. Kombinasi gangguan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb menempatkan pasokan energi global dalam posisi amat rentan.
Dampak dari ketidakpastian keamanan ini langsung terpeta pada pasar komoditas internasional. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga berada di kisaran US$108 per barel, mendekati titik tertinggi sejak Mei. Selama jalur maritim vital di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb terus berada dalam ancaman gempuran, risiko gangguan distribusi minyak mentah dunia diperkirakan akan tetap membayangi pasar global.

