Lewati ke konten utama
September 24, 2026Tim Redaksi Pulse.IndoTrenesia.com
pulse.indotrenesia.com
HomeHiburanArtikel
Hiburan

Ed Sheeran Menangis dan Minta Maaf di Panggung Philadelphia di Tengah Gelombang Kontroversi Tur Dunia

September 20, 2026 · Tim Redaksi Pulse.IndoTrenesia.com
Ed Sheeran Menangis dan Minta Maaf di Panggung Philadelphia di Tengah Gelombang Kontroversi Tur Dunia

Musisi Ed Sheeran menyampaikan permohonan maaf terbuka di hadapan ribuan penonton di Lincoln Financial Field, Philadelphia, setelah tur dunianya bertajuk ‘The Loop’ dilanda krisis hebat akibat pencopotan rapper Macklemore. Di atas panggung, Sheeran tampak emosional hingga meneteskan air mata saat mengakui adanya kesalahan dalam penanganan tur, sembari mengaku sempat mempertanyakan kelanjutan karirnya sebagai seorang seniman.

Pernyataan emosional tersebut menjadi penampilan panggung pertama Sheeran setelah keputusan manajemen melarang Macklemore tampil memicu reaksi berantai. Isu politik terkait konflik di Gaza dan Israel secara mendadak mengguncang rangkaian pertunjukan musik skala stadion tersebut, yang berujung pada mundurnya sejumlah musisi pendukung ternama dari daftar pengisi acara.

Pengakuan Emosional Sheeran dan Sikap Soal Gaza

Di hadapan publik Philadelphia, Sheeran secara jujur mengutarakan tekanan psikologis yang dialaminya sepanjang pekan terakhir. Ia menyebut situasi berkembang sangat cepat hingga membuatnya terhenyak dan meragukan langkah profesionalnya ke depan.

“Saya benar-benar tidak tahu apakah tur ini akan berlanjut. Saya bahkan tidak tahu apakah saya akan naik ke panggung lagi, atau apakah saya masih ingin menjadi seorang seniman,” ujar Sheeran saat membuka pertunjukannya secara tidak konvensional.

Sheeran menegaskan bahwa dirinya selalu berupaya menjaga agar setiap konsernya menjadi ruang persatuan dan menghindari peran sebagai pengamat politik. Namun, menyikapi eskalasi yang terjadi, ia memilih menyampaikan pandangannya secara terbuka terkait krisis kemanusiaan di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Sheeran menyebut serangan pada 7 Oktober di festival musik Nova, Israel, sebagai peristiwa mengerikan yang memperdalam luka masyarakat Yahudi. Di sisi lain, ia juga mengutuk keras dampak kemanusiaan yang timbul akibat operasi militer di Gaza.

Sheeran menggambarkan situasi di Gaza sebagai hal yang krisis, tidak terjustifikasi, dan tidak proporsional, sembari menyoroti jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil dan anak-anak, serta ketidakadilan sistemik di Tepi Barat. Lebih lanjut, ia menyampaikan kekhawatiran mendalam jika pengelola lokasi pertunjukan di masa depan mulai menerapkan aturan pra-persetujuan (pre-approval) terhadap materi atau ekspresi para seniman.

Awal Mula Kontroversi dan Gelombang Boikot Musisi

Pemicu utama gejolak di tur ‘The Loop’ bermula ketika rapper Macklemore dikeluarkan dari jajaran musisi pembuka. Keputusan tersebut diambil setelah Macklemore menyuarakan seruan “Free Palestine” dan menggunakan istilah “genosida” untuk menggambarkan situasi di Gaza saat tampil dalam konser pembuka.

Pencopotan musisi berusia 43 tahun itu memicu kemunculan petisi penolakan serta silang pendapat tajam di antara figur publik internasional. Penyanyi Pink menjadi salah satu musisi yang mendukung langkah penghentian Macklemore. Pink mengkritik aksi Macklemore di MetLife Stadium yang dinilainya menampilkan visual konflik di layar stadion yang dipenuhi keluarga penikmat musik, serta narasi yang dinilai memicu ketidaknyamanan bagi komunitas Yahudi yang hadir.

Namun, keputusan mengeluarkan Macklemore justru menyulut aksi solidaritas dari musisi pembuka lainnya. Sejumlah nama besar memilih mundur dari rangkaian tur Sheeran, termasuk musisi pemenang Grammy Finneas, penyanyi asal Denmark Lukas Graham, musisi Aaron Rowe, hingga grup musik pengiring Sheeran sendiri, Beoga.

Dukungan untuk Macklemore juga datang dari figur seperti Paloma Faith dan grup Kneecap. Sementara itu, Macklemore dalam statement resminya menegaskan bahwa dirinya maupun Sheeran bukanlah korban dalam dinamika ini, melainkan rakyat Palestina yang sedang mengalami krisis kemanusiaan.

Dampak Penjualan Tiket dan Perpecahan Suara Penggemar

Dampak dari kekacauan ini langsung menghantam aspek operasional dan komersial pertunjukan. Harga tiket untuk konser Sheeran di Philadelphia dilaporkan merosot hingga menyentuh angka 32 dolar AS, sebuah penurunan signifikan mengingat rekam jejak tur Sheeran sebelumnya yang senantiasa mencatatkan rekor pendapatan tertinggi.

Suasana di sekitar arena pertunjukan turut mencerminkan pembelahan opini publik. Di luar stadion Lincoln Financial Field, sekelompok massa menggelar aksi protes pro-Palestina. Salah seorang pemegang tiket, Hillary Steinberg, memilih mengembalikan tiketnya sebagai bentuk protes dan menegaskan pandangan bahwa karya seni tidak dapat dipisahkan dari realitas politik.

Di sisi lain, sejumlah penggemar tetap menyampaikan dukungan moril kepada Sheeran. Penonton seperti James Webber IV dari Scranton menilai pertunjukan musik seharusnya tetap menjadi ruang hiburan yang terbebas dari perdebatan politik, sementara Kassandra Rivera dari Philadelphia menyikapi perbedaan pandangan tersebut sebagai hal yang lumrah dalam masyarakat.

Rangkaian tur ‘The Loop’ yang diawali di Auckland, Selandia Baru, dijadwalkan melintasi 16 pertunjukan di kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan hingga berakhir di Mexico City pada Desember mendatang. Di tengah jadwal yang masih berjalan, Sheeran kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menuntaskan turnya di bawah bayang-bayang perpecahan opini publik dan penyesuaian besar pada jajaran pengisi acara.

Sumber referensi: metro.co.uk